oleh

Cinta Baru

INIKATA.com – Tidak terasa hampir satu jam Ina diam terpaku menatap jendela, entah apa yang dia pikirkan, tapi hujan di luar cukup membuat sensasi ketenangan baginya.

Tiba-tiba saja bibir tipisnya membentuk sebuah lengkugan, yaa Ina seakan di buat terhipnotis oleh derasnya hujan. Hujan bagaikan badut lucu yang membuat anak kecil seperti Ina terhibur.

Bersamaan itu pula butir-butir air menggelitik pipi Ina, mengapa sebuah kesedihan datang setelah senyum itu hadir? Apakah senyum manis Ina adalah awal dari kesedihan? Tanpa sadar sudah ada sesosok pria yang dari tadi memperhatikan Ina dari luar kamar.

“Eehh nangis lagi? Gak habis2 tuh air mata di keluarin terus” dengan sedikit keberanian Reno mencoba menghapus air mata Ina “udah gak usah nangis” tapi secepat kilat Ina menghempas tangan Reno.

“Gak usah sentuh gue! Mending skarang lo pergi aja dari sini” bentak ina.
Dengan senyum kecutnya Reno hanya menggelengkan kepala “lo gak salah usir gue? Suami gak salah apa2 malah di usir, lo mau kualat? Reno sengaja merendahkan intonasinya karna dia tau Ina adalah cewek paling keras kepala yang pernah dia temuin dan sialnya takdir menjadikan dia sebagai istrinya.

Yah, Reno dan Ina sudah resmi menjadi sepasang suami istri baru setahun yang lalu, walaupun masih semester tiga mereka harus terpaksa terjebak dalam status yang sama skali tak pernah mereka bayangkan.

“Mau sampai kapan sih lo kayak gini terus? Lo nangis sampe air mata jadi laut juga gak akan ngerubah keadaan, mau lo ngurung diri di kamar sampe lo jadi nenek2 yah tetep aja kayak gini. Masalah gak bakal selesai kalo cuman di ratapin doing “Reno kembali mencoba meyakinkan Ina.

“Dan masalah gue itu elo, lo yg udah bikin ini semua ribet! Seandainya aja waktu itu lo gak ngakuin kalo lo yang udah tidur sama gue, gue gak bakal ngerasa tertekan separah ini. Lo itu emang jahat! “Ina kembali menjatuhkan air dari kantong matanya, kali ini mengalir dengan deras seolah-olah bersaing dengan derasnya hujan di luar.

“Astaga Ina otak lo kemana sih kalo gue gak ngelakuin itu yang ada lo sendiri bakal malu dan malu2in keluarga besar lo, apa lo gak mikir? ” cerca Reno
“Tapi gue gak berharap sedikitpun lo yang bantu gue” dengan nada yang lantang Ina mengucapkan kalimat itu.

“Terus yang lo harepin buat bantu lo siapa? Cowok lo yang pecundang itu? Dia gak bakal ninggalin lo kalo dia bener sayang sama lo, kesadaran lo mungkin udah gak ada kali ya sampe2 cowok kayak dia lo tangisin sampai mata lo mau buta kayak gini”

“Lo jangan skali2 bilang Dito di depan gue, lo itu gak tau apa-apa soal dia jadi lo gak berhak nilai dia semau lo” dengan kepala batunya Ina masih tetap menutup telinga dari perkataan Reno dan Dito sudah seperti seorang malaikat yang selalu dia bela.

Reno merasa harus membuka mata Ina, walaupun dia juga tidak terima dengan pernikahan ini tapi ada rasa tanggung jawab yang harus dia laksanakan. Membantu Ina waktu kejadian itu sudah menjadi keputusan Reno jadi dia akan berupaya agar Ina tidak lagi mengharapkan laki2 yang udah ninggalin dia pas udah dapat maunya di sisi lain sekarang Reno adalah suami Ina, tidak lazim rasanya jika masih ada pria lain yang mengisi hati Ina.

“Dasar bego” (batin Reno) “kalo emang Dito cowok yang baik menurut lo, kemana skarang dia? Seharusnya dia ada di sini kan buat tanggung jawab atas apa yg udah dia lakuin, tapi buktinya skarang apa, jadi lo masih pengen di cap sebagai korbannya Dito karna lo udah sampai mati ngebela dia yang udah gak bermoral menurut gue”

Pertanyaan Reno bagaikan ledakan bom yang tepat berada di telinga Ina, dia tidak bisa munafik buat nutupin kalo perkataan Reno ada benarnya. Lagi2 air yang bening itu mengalir membuat wajah putih Ina semakin mengkilap karna basah.

“Lo gak tau Ren gimana sulitnya gue buat ngelupain Dito… Dia udah bikin gue sayang sama dia dan gue udah ngelewatin banyak waktu bareng dia, jujur gue masih sayang sama dia.. Gue gak ngerti kenapa dia kayak gini salah gue apa coba? ”

Dengan suara bergetar dan bibir yang basah Ina merasakan hangat yang luar biasa, kulit wajahnya merasakan hembusan nafas yang lembut. Yah Reno melingkarkan tangannnya ke tubuh Ina, dengan perasaan lembut Reno mengelur rambut Ina yang makin hari makin acak2an tak terawat.

Perasaan berbeda di rasakan keduanya, Ina sangat tenang berada di dekapan Reno, tak pernah Ina merasa kehadiran suami di pernikahannya selama ini, tapi kali ini dia dapat paham seperti inilah pasangan suami istri seharusnya.

“Gue gak bisa bohong, walaupun gue juga belum bisa nerima pernikahan ini tapi gue juga gak tega ngeliat istri gue di bikin sakitin kayak gini” tersadar ada getaran yang Reno rasakan saat mengucapkan kalimat itu, tak perduli dengan bajunya yang basah terkena air mata Ina, yang jelas dia hanya ingin wanita yang menjadi istrinya itu bisa bahagia. “Aku jatuh cinta sama kamu” sayangnya itu hanya ada di batin Reno.

Dengan perasaan sedikit tenang ina menjauh dari pelukan reno wajahnya tampak pucat di tambah matanya yang bengkak kayak habis di tonjok preman, ” gue mau istirahat dulu” pinta. Ina. Dengan sigap reno mengiyakan keinginan ina.”kalo butuh sesuatu lo bisa panggil gue, tapi kalo mau lo bisa tinggal sms gue soalnya gue yakin suara lo pasti udah habis gegara nangis setahun” ina hanya diam tak berkata apa2,berbaring di atas kasur yang empuk dengan selimut tebal berbulu rasanya lebih nyaman di temani oleh hujan yang ternyata dari tadi masih sibuk menjatuhkan butirnya ke bumi.

“Awas bantal gue jangan di basahin cukup baju gue yang basah” reno tersenyum sebelum melangkah keluar dan menutup pintu.

Di balik selimut dengan mata memejam Ina di buat harus menciptakan senyum oleh candaan Reno. Senyum yg sudah hampir punah akhirnya perlahan muncul kembali dan ini berkat pria yang bernama Reno.

3 jam berlalu, seharusnya Ina sudah terjaga dalam tidurnya mengingat betapa lelahnya dia menangis, tetapi mata Ina masih terbuka lebar, kali ini dia tidak nangis seperti biasanya tapi seperti ada yang dia pikirkan. Di benaknya sebuah pertanyaan tengah berkecamuk, “apa sudah saatnya aku bangkit kembali? Aku rasa Dito tidak akan datang membawa keberaniannya.

Cowok kayak dia emang gak pantes buat gue, bisa2nya dia bikin seorang ina nangis kayak orang gila kayak gini, gue harus bisa ngelupai dia, toh cowok bukan dia doang Reno juga keren, keren banget malah, ini udah selesai dan dito udah gak ada lagi” Ina berusaha membangun keyakinan untuk bangkit lagi.

Dengan semangat ina keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, dia mendapati Reno sedang menyantap sebuah mie instan. Dengan hitungan detik ina sudah ada di samping Reno, Ina menatap pria yang badanya tinggi dengan kulit putih langsat itu dengan tajam membuat Reno sedikit terheran-heran.

“Ren, kalo gue jatuh cinta sama lo boleh? ” Hampir semua makanan yang telah di masukkan Reno ke mulutnya terhambur keluar bagaikan semburan gunung berapi yang mengeluarkan abu vulkanik saking kagetnya.

“Lo sakit hati kayak gini bikin lo tambah sinting yah” Reno tersenyum memamerkan giginya yang putih tersusun rapih
Brukkkkk. Serangan kaki Ina membuat Reno struk, tendangannya tidak kalah dengan tendangan seekor kuda yang merasa terganggu dengan sesuatu

“Gak cuman sinting, lo juga sekarang jadi kejam.

Mending lo ngelamar sana jadi polisi jaga” sambil memegang kakiknya yang ngerasa kesakitan Reno semakin heran dengan sikap Ina
Ina menatap reno lembut dengan penuh arti, Reno sentak membalas tatapan itu dengan alis yang saling bertautan menandakan kebingungan

“Apa salah kalo gue mutusin buat sayang sama lo? Gue nyaman di saat lo ada di deket gue”.

Sekarang Reno yang terdiam terpaku menatap wajah Ina dengan dalam seakan mencoba menerawang isi kepala Ina.”Tolong jauhin gue dari kenangan Dito, gue gak mau siksa diri gue dengan bayangan cowok itu dan gue mau lo jadi cinta yang baru buat gue”pinta Ina lirih dengan senyum yang sungguh.

“Yakin lo move on secepat ini,barusan lo maki-maki gue,ngebela Dito sampe mati,apa lo sefrustasi itu? Pernyataan Ina semakin membuat Reno tidak percaya atas keputusannya.

“lo itu suami gue, udah tanggung jawab lo buat istri bahagia, kalo lo nolak gue buat cinta sama lo gue bakal laporin lo ke polisi” ina sok mengancam

Mendengar ancaman Ina, Reno yang dari tadi di hantui rasa bingung berubah menjadi sebuah lolucon yang menggelitik.lagi-lagi reno menyatukan alisnya yang hitam dan tebal.

Ketawa Reno menjelma menjadi kesenangan iblis,tak mau kalah Reno memberi ancaman balik

“coba aja kalo berani,siap-siap lo gue talak 3”

“lo yakin talak gue?emangnya lo gak mau ngerasain puas sama gue?inget bulan madunya kan belum ada”

Dengan mata menggoda ina mencoba merayu Reno
“cewek cantik dan keras kepala kayak lo mubazzir kalo buat cowok lain,mending buat gue aja”

Tak terasa hujan yang sedari tadi terdengar berisik sudah reda di temani candaan manis mereka saling merayu dan membalas godaan satu sama lain.

Sejak malam itu Reno dan Ina sudah menjatuhkan harapan satu sama lain,bahagia dan menjaga komitmen adalah tujuan terbesar mereka,awal yang tidak mungkin untuk mereka bersatu mengingat Ina yang sudah hamper mati akibat ulah ditto, mantan pacarnya. Tapi hati memang sulit untuk di kendalikan,tanpa ragu mereka berdua menjalin kasih setiap waktu.

Penulis: Jaratimi Annisa

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed