oleh

Dibalik Keindahan Toraja, Ada Tangisan Diantaranya

INIKATA.com – Toraja merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terbagi atas dua kabupaten yaitu Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, namun siapa yang menyangka ada beberapa permasalahan di hadapan generasi muda Toraja, yang menguras pikiran hingga air mata.

Budaya malas tahu dan abai terhadap kejadian sekitar terus menggerogoti pemuda Toraja masa kini, tidak ingin menciptakan keyakinan baru. Bahwa Toraja tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ada beberapa rentetan kasus yang harus membuat beberapa pemuda Toraja (tidak seluruhnya) harus berdiri tegak untuk memperjuangkan permasalahan yang terjadi.

Malas tahu dan abai itu merupakan tangisan yang harus ditangisi secara bersama juga, sebut saja kasus Drop Out mahasiswa Teknik Mesin UKI Toraja, yang harus memaksa beberapa mahasiswa Teknik Mesin UKI Toraja memasukkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar.

Puri Paembonan merupakan salah satu Mahasiswa yang harus melakukan perlawanan hingga ke meja hijau agar dapat kembali berkuliah di UKI Toraja. Tidak hanya itu, setelah SK Drop Out diterima kawan-kawan UKI Toraja ada banyak persoalan yang terjadi, mulai dari keterlibatan Gereja yang mewartakan bahwa mahasiswa yang di Drop Out merupakan mahasiswa yang tak memiliki moral setelah melakukan pengrusakan.

Gereja sudah sepatutnya hadir sebagai pihak yang memfasilitasi pertemuan antara mahasiswa dan birokrat kampus untuk menemukan solusi baru, tanpa mengeluarkan statement ada tindakan amoril dalam kasus ini.

Tidak hanya kasus Drop Out UKI Toraja yang menjadi permasalahan di Toraja, sebut saja kasus sengketa tanah Lapangan Gembira yang harus membuat masyarakat Toraja kebakaran jenggot setelah adanya putusan Pengadilan Negeri Makale yang memenangkan penggugat HA sebagai pemilik tanah dan putusan tersebut harus dikuatkan Pengadilan Tinggi Makassar.

Kasus sengketa tanah Lapangan Gembira adalah persoalan yang sangat kompleks, ada beberapa fasilitas publik yang menjadi objek dalam sengketa ini termasuk SMA Negeri 2 Toraja Utara (dulu SMA Negeri 2 Rantepao).

Alih-alih Pengadilan Negeri Makale dan Pengadilan Tinggi Makassar harus memenangkan bukti penggugat yang hanya berlandaskan foto copy kwitansi jual beli. Sudah jelas Majelis Hakim yang mengadili perkara ini telah keliru dalam mengambil keputusannya, majelis Hakim tidak mempertimbangkan Pasal 1888 KUH Perdata yang berbunyi “Kekuatan pembuktian suatu bukti tulisan adalah pada akta aslinya. Apabila akta yang asli itu ada, maka salinan-salinan serta ikhtisar-ikhtisar hanyalah dapat dipercaya, sekedar salinan-salinan serta ikhtisar-ikhtisar itu sesuai dengan aslinya, yang mana senantiasa dapat diperintahkan mempertunjukkannya”.

Tidak hanya itu, dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Putusan no. 3609 K/pdt/1985 secara tegas telah menetapkan bahwa “Surat bukti fotocopy yang tidak pernah diajukan atau tidak pernah ada surat aslinya, harus dikesampingkan sebagai alat bukti”.

Upaya untuk mencari kebenaran dalam kasus sengketa tanah Lapangan Gembira terus bergulir dan dalam proses Kasasi di tingkat Mahkamah Agung, kalaupun putusan ini dikuatkan oleh Mahkamah Agung di Jakarta fasilitas gedung perkantoran terancam tidak digunakan lagi dan berakibat terganggunya pelayanan masyarakat.

Dan juga berpotensi menghentikan proses belajar mengajar adik-adik terkasih SMA Negeri 2 Rantepao, karena jika putusan ini dikuatkan lagi oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung di Jakarta, maka seluruh siswa yang belajar terpaksa tidak bisa lagi melanjutkan impiannya menjadi generasi Toraja yang terdidik, karena gedung sekolahnya harus dirobohkan.

Kita tidak ingin membiarkan permasalahan demikian terus terjadi. Seandainya kita mau bertanya, mendengar dan mengetahui lebih tanpa berprasangka. Ada kekuasaan yang terus bermain dalam beberapa kasus yang disebutkan. Lalu kita masih punya keinginan untuk mendapatkan kebenaran dalam kedua kasus ini, kalaupun air mata harus membasahi tanah untuk menyuburkan perlawanan-perlawanan kedepannya, biarkan saja air mata itu jatuh.

Penulis: Lexyanto Datuan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed