oleh

72 Tahun HMI, Rekonstruksi Paradigmatik Menjawab Tantangan Masa Depan Indonesia

Oleh: Akbar Idris (Wasekjend PA PB HMI)

MAKASSAR, INIKATA.com – Tepat 05 Februari 2019, HMI telah genap berusia 72 tahun. Sebuah usia yang tidak lagi muda, sebuah usia yang telah matang semenjak kehadirannya mengisi ruang – ruang dialektika bangsa dan negara.

Kehadiranmu adalah nafas bagi bangsa ini. Disaat bangsa ini terpecah karena kepentingan ideologi dunia, engkau hadir dalam memberikan sebuah jalan kebenaran dan solusi dari berbagai problem kebangsaan dan keummatan yang tengah terjadi di republik ini.

Kehadiranmu pun seolah menjadi sebuah ancaman bagi mereka yang tidak menginginkan negeri ini menjadi negeri yang berdaulat. Berbagai pihak berusaha agar engkau dilenyapkan agar eksistensimu tidak lagi hadir dalam memberi warna perjalanan bangsa ini.

Kehadiranmu pun mengusik eksistensi mereka yang tidak menginginkanmu di bumi pertiwi. Puncaknya ketika PKI meminta kepada presiden Soekarno agar engkau dibubarkan karena menganggap engkau adalah organisasi kontra revolusioner.

Namun dengan pertolongan Ilahi dan berbagai pihak yang menginginkanmu tetap eksis mematahkan semangat PKI untuk mematikan eksistensimu dan bahkan seorang Jendral Besar di Indonesia, Jendral Besar Soedirman menganggapmu sebagai Harapan Masyarakat Indonesia.

Pergulatan politik di indonesia kemudian mengharuskanmu terlibat dalam setiap dinamika perpolitikan di tanah air. Kehadiranmu dengan semangat Independensi Ethis maupun Organisatoris adalah senjata bagimu dalam menghadapi tantangan pergolakan politik di tanah air.

Di sisi lain, engkau telah melahirkan banyak tokoh – tokoh yang mempengaruhi perjalanan bangsa ini. Nurkholis Madjid, Akbar Tandjung hingga Jusuf Kalla adalah sedikit contoh yang namanya melalang buana dan menjadi centrum dari arah perjalanan bangsa indonesia.

Namun dibalik nama besar itu, engkau kini mengidap penyakit kronis yang sampai sekarang ini belum ada obat penawarnya. Orang – orang yang berlindung dibalik nama besarmu seakan akan tidak mampu memberi penawar racun yang mengakibatkan penyakit kronis didalam dirimu tumbuh dan berkembang serta mengancam eksistensimu ditengah kesemrautan bangsa dan negara.

Selain itu, semakin minimnya eksplorasi pengetahuan oleh sebagian kader membuatmu kini tertinggal dari organ – organ lain. Kampus yang dulunya menjadi wadah bagimu untuk diadakannya diskusi – diskusi kebangsaan dan keummatan serta kemahasiswaan telah diisi oleh organ – organ lain. Bahkan slogan HMI Back to Campus seolah tidak memiliki arti penting dalam mengembalikan eksistensimu di kampus – kampus.

Parahnya lagi, sebagian kader seolah termakan oleh zaman bukan malah menjadi pelaku perkembangan zaman. Hijau Hitam tidak lagi mampu memberikan warna bahkan seakan terdiam melihat berbagai penindasan yang terjadi di negeri ini.

Ada apa denganmu wahai HMI ku? Apakah diusiamu yang telah matang membuatmu terbuai oleh sejarah kemajuanmu dimasa lampau?

Sebuah renungan akan kondisimu sekarang menjadi sebuah keharusan. Memang benar, setiap zaman pasti ada pelaku zamannya.

Di usiamu yang kini menginjak 72 tahun, menjadi sebuah keharusan bagi seluruh kader HMI untuk memikirkan obat penawar racun untuk memulihkan kondisi HMI seperti sedia kala.

Kesadaran akan kepemilikan HMI oleh seluruh kader HMI adalah bentuk kecintaan kita terhadap organisasi ini. Lafran Pane mendirikan organisasi ini sebagai sebuah jawaban akan gejolak dan problem kebangsaan dan keummatan yang terjadi di indonesia diawal berdirinya republik ini.

Dan sekarang, apa yang telah dilakukan oleh pendiri organisasi ini mestinya tetap dilanjutkan. Berbagai konflik yang menimpa organisasi ini haruslah terselesaikan. Sudah saatnya kita melebur Ego kita semua sebagai kader HMI untuk menatap masa depan organisasi ini.

Sudah saatnya kita duduk bersama sembari menikmati secangkir kopi hangat untuk memikirkan cita – cita HMI yang termaktub dalam tujuan HMI itu sendiri.

Dengan duduk bersama menyelesaikan berbagai dinamikan interen organisasi dengan melakukan rekonstruksi paradigmatik mengenai keberlanjutan arah gerak juang HMI masa kini dan masa yang akan datang.

Selain merekonstruksi paradigmatik di tubuh HMI, kader HMI pun harus mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan masa depan bangsa.

Tantangan kedepannya semakin besar dan HMI sebagai organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar di indonesia senantiasa dinantikan kehadirannya.

Namun, HMI mesti berbenah agar kehadirannya nanti memberikan kehangatan ditengah ancaman badai yang akan menimpa masa depan indonesia di masa yang akan datang.

72 Tahun HMI, mari kita wujudkan apa yang pernah dikatakan oleh Jendral Besar Soedirman tentang HMI. Mari kita tunjukkan kepada mereka bahwa HMI masih eksis dalam membahas wacana – wacana kebangsaan dan keummatan.

Mari kita tunjukkan kepada mereka bahwa cahaya HMI yang beberapa tahun belakangan ini redup telah bersinar terang kembali dan siap menghadapi berbagai macam tantangan yang akan menimpa bangsa dan ummat di negeri khatulistiwa ini.

Mari kita Yakinkan dengan Iman, usahakan dengan ilmu dan sampaikan dengan amal kepada jutaan manusia di negeri ini bahwa HMI masihlah seperti HMI di awal berdirinya yang tetap fokus pada kemajuan bangsa dan kemandirian ummat. (Hendrik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed