oleh

Kebijakan biodiesel Bisa Mengurangi Impor Solar

INIKATA.com – Pemerintah terus berusaha menekan impor minyak dan gas yang selama ini menjadi biang keladi defisitnya neraca dagang.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar menyebut pemanfaatan biodiesel dan imbauan agar perusahaan tidak mengimpor bahan bakar kapal (marine fuel oil/MFO) sebagai dua cara efektif.

Kebijakan biodiesel, menurut Arcandra, bisa mengurangi impor solar.

”Jadi, kita update berapa dampak dari B20 ini,” ujar Arcandra, Rabu (21/3). Dia menambahkan, pembelian minyak mentah dari kontraktor juga bisa mengurangi besaran impor.

Setidaknya pembelian langsung minyak mentah oleh Pertamina dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bisa menghemat impor minyak hingga paro akhir semester pertama.

Data SKK Migas menunjukkan, jatah minyak mentah KKKS di Indonesia berkisar 240 ribu barel.

Sebagian sudah siap diserap Pertamina. Nanti strategi itu mengurangi impor minyak mentah RI.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor minyak mentah turun drastis pada Februari lalu.

Pada periode yang sama tahun lalu, volume impor mencapai 1,8 ribu ton. Tahun ini volumenya hanya 0,7 ribu ton atau turun kira-kira 61,45 persen.

Kementerian ESDM menyebutkan bahwa kebutuhan BBM Indonesia saat ini 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, lifting minyak hanya berkisar 800 ribu barel per hari (bph).

Akibatnya, 50 persen kebutuhan BBM dan minyak mentah dalam negeri harus diambilkan dari negara lain alias impor.

Di sisi lain, kapasitas kilang Pertamina sekitar satu juta bph dengan kapasitas terpakai 850 ribu bph. Namun, lifting nasional yang bisa diserap hanya 560 ribu bph.

Artinya, Pertamina harus impor minyak mentah 250 sampai 300 ribu bph. Padahal, selama ini sebagian lifting KKKS juga diekspor.

Dalam kesempatan itu, Arcandra juga mengimbau perusahaan tidak mengimpor MFO. Sebab, kini Pertamina sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

”Dari ketiga itu, tiga-tiganya lumayan. Nanti kami lihat buat apa, sih, MFO di operasi mereka. Jika untuk alat-alat berat saja, rasanya cukup,” jelas Arcandra.

Beberapa perusahaan tambang yang menggunakan MFO, seperti AKR dan Vale, sudah meneken perjanjian dengan Pertamina supaya tidak impor lagi.

Maka, impor migas pada Februari lalu turun 30,5 persen jika dibandingkan dengan periode sama pada 2018.

Secara volume pun impor migas tercatat turun. Yakni dari 3,95 ribu ton pada Februari tahun lalu menjadi 3,06 ribu ton pada Februari 2019.

Selama 13 bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada Agustus 2018. Nilainya mencapai USD 3,045 miliar atau Rp 43 triliun.

Sebaliknya, impor terendah terjadi pada Februari lalu. Nilainya berkisar USD 1,552 miliar atau sekitar Rp 21,9 triliun. (Inikata/Jpnn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed