oleh

Kedunguan Rocky Gerung Dalam Berfilsafat

AKHIR dari filsafat, frase ini linear dengan yang dikatakan Alain Badiou “filsafat memang sedang sakit, barangkali sekarat, tapi saya yakin dunia sedang berkata pada filsafat: bangkit dan berjalanlah”.

Oleh: FAISAL HAMDAN (Penggiat Literasi Malcom)

Di Yunani kuno, ribuan tahun yang lalu lahirlah sebuah pengetahuan yang mampu menelanjangi mitos dan mematahkan otoritas para dewa, juga mampu menumbangkan opini orang kebanyakan.

Pengetahuan tersebut lahir dari rahim sejarah yang secara umum kita kenal sebagai filsafat. Di Timur, Filsafat lahir untuk menyatukan Manusia, alam dan dengan sendirinya akan mengenal penciptanya. Sebagai suatu ‘jalan’ kehidupan menuju harmonisasi.

Sejenak terbersik kisah Nabi Ibrahim AS, yang terus mempertanyakan soal penciptaan, hingga menemukan ‘Tuhan’. Implikasi pengetahuan Nabi Ibrahim terjewantahkan di dalam kehidupan sosialnya, Nabi Ibrahim dengan berani melawan stigma hingga mengubah jalan hidup Masyarakat kala itu.

Filsafat pada awalnya membahas persoalan mulai dari Manusia, semesta dan Tuhan, dan ia tidak berkutat dengan apa yang diterima orang secara kebanyakan, melainkan segelintir orang yang tercerahkan.

Filsafat tidak bertanya tentang “bgaimana saya menjalani kehidupan”, tapi “apa itu kehidupan”. Oleh sebab itu, kebanyakan orang ber-kesimpulan bahwa filsafat sama sekali tidak menyentuh kehidupan, atau dia tidak membicarakan tentang fakta.

Melainkan hal yang sifatnya sangat idealitas: ‘Para filsuf hanya mampu menafsirkan kehidupan tanpa mampu mengubahnya’, seperti itu kata Karl Marx.

Misalkan peniadaan subsidi BBM, filsafat sama sekali tidak membahas persoalan tersebut, sebagaimana ilmu sosiologi atau ilmu ekonomi membicarakannya.

Filsafat masih berkutat pada satu wilayah “konsep” yang hanya melihat masalah pada wilayah metodologis, tanpa mampu menyentuh setiap dimensi yang menjadi akar permasalahan.

FILSAFAT KEDUNGUAN ROCKY GERUNG

Rocky Gerung, nama ini seketika tenar saat dia menggunakan retorika Filsafat untuk mendukung salah satu Calon Presiden. ‘Dungu’, kata itu ia pakai untuk mengkritik pemerintah yang saat ini menjadi lawan dari ‘jagoannya’.

Kata Dungu Rocky Gerung bahkan nyaris mengganti kata kecebong, yang digunakan pendukung Prabowo untuk mengolok pendukung Jokowi di media sosial.

Dan telah membuat Filsafat semakin sakit, alih-alih merubah tradisi politik, justru ia menyemplungkan diri ke dalam kolam politik yang kotor lagi menjijikkan.

Kritik Rocky tak membersihkan kolam dari ‘kotoran’ politik ala Machiavelli, yang kini identik dengan tradisi politik Indonesia.

Bahkan ia melupakan aspek terpenting dalam ber-filsafat. Dia mengekang Filsafat dalam koridor ideologi hingga terkesan tak ada upaya menembus realitas sosial.

Sampai sini, Rocky Gerung membuat Filsafat tak mampu merumuskan dirinya, dalam membentuk tradisi politik yang baru. Hal ini tentu menambah penyakit dari cara ber-Filsafat.

FILSAFAT SEBAGAI INSTRUMEN PERUBAHAN

Di berbagai negara, pemikiran Filsafat tidak digunakan untuk menambah kosa-kata kelompok penguasa, maupun mereka yang berambisi berkuasa untuk saling menyerang di media sosial.

Pemikiran Filsafat justru mengilhami beberapa perubahan penting, dan tercatat dalam sejarah dunia. Revolusi Prancis misalnya, pemikiran Filsafat Politik Jean Jacques Rosseau menjadi salah satu pendorong yang membuat sistem feodal runtuh.

Pemikiran Filsafat juga mengilhami Revolusi Islam Iran, salah satu tokoh berpengaruh Iran, Ali Syariati kerap membawa kuliah filsafat bagi Mahasiswa, yang belakang menjadi faktor penting terhadap Revolusi Islam Iran.

Begitu juga di Indonesia, Filsafat memiliki peran penting dari Kemerdekaan. Tan Malaka, Soekarno, Hatta dan beberapa pendiri bangsa merupakan orang yang sering mengasa pemikirannya dengan Filsafat.

Filsafat tercatat sebagai instrumen untuk merubah sistem politik yang telah rusak. Bukan melanggengkan tradisi politik yang tak memiliki masa depan bagi kehidupan yang harmonis.

FIKSI ‘KESESATAN’ ALA ROCKY GERUNG

Fiksi, seperti yang telah jelaskan oleh Rocky, fiksi merupakan hal yang belum terjadi, namun diyakini sebagai jalan kehidupan.

Rocky mencontohkan kitab suci untuk menjelaskan fiksi, karena kitab suci menjelaskan beberapa kejadian yang belum terjadi, tapi diyakini sebagai jalan hidup, oleh karena itu Rocky menyebut kitab suci sebagai fiksi.

Rocky secara tak sadar telah membangun sebuah fiksi, membangun sebuah keyakinan yang ‘menyerupai’ ajaran kitab suci.

Menjadi tim sukses Prabowo membuat Rocky mau tak mau harus menyakini, bahwa Prabowo mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Keyakinan Rocky itu adalah sebuah Fiksi, sebab belum terjadi, tapi ia meyakini dan mengamalkannya dalam bentuk kampanye.(**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed