oleh

Waduh! Saham Maskapai Garuda Anjlok 4,86 Persen, Diduga Karena Tiket Kemahalan

INIKATA.com – Harga saham maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) anjlok. Masih mahalnya harga tiket pesawat saat ini diduga menjadi salah satu penyebabnya.

Pergerakan saham Garuda pada Kamis (4/4), turun 24 poin atau 4,86 persen di harga Rp 470 per lembar saham. Sementara nilai kapitalisasi pasar saham Garuda hingga saat ini mencapai Rp 12,17 triliun.

Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemrnhub) telah menerbitkan dua aturan baru terkait tarif pesawat. Kedua aturan tersebut yaitu Peraturan Menteri Nomor PM 20 Tahun 2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 72 Tahun 2019 Tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Kedua aturan tersebut merupakan pembaruan dari PM 14 Tahun 2016 Tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan Dan Penetapan Tarif Batas Atas Dan Tarif Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga berjadwal Dalam Negeri.

Usai diterbitkannya beleid tersebut, sejumlah maskapai mulai melakukan penyesuaian. Sebut saja Garuda Indonesia yang memberikan diskon tiket sebesar 50 persen. Sementara itu Lion Air juga menegaskan komitmennya untuk menurunkan tarif pesawat di semua rute.

Namun hingga kini masih belum dirasakan oleh masyarakat. Terlihat dari tingginya harga tiket tujuan favorit. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun mengaku akan melakukan pemantauan terkait harga tiket maskapai penerbangan.

Meskipun demikan, Kepala Riset Narada Asset Manaement Kiswoyo Adi Joe mengatakan, bahwa yang akan berimbas pada harga saham maskapai penerbangan bukan hanya dilihat dari faktor harga tiket. Melainkan, hal lain seperti kinerja perusahaan

“Masih merah juga laporan Keuangannya,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (4/4).

Kiswoyo menjelaskan, pembentukan harga tiket sendiri dikaitkan oleh banyak hal, di antaranya harga bahan bakar (Avtur) hingga cost per penerbangan. Saat ini maskapai pemerbangan tersebut telah melakukan banyak efisiensi lantaran masih mengalami kerugian. (JPC)

Sementara melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, pada kuartal III tahun lalu, Garuda Indonesia masih mengalami rugi bersih sebesar USD 110,2 juta. Meskioun demikian, Kerugian itu menurun dibandingkan rugi bersih periode yang sama di 2017 sebesar USD 221,9 juta.

Namun, Pada periode itu, pendapatan operasi Garuda Indonesia meningkat 3,5 persen dari USD 3,1 miliar menjadi USD 3,22 miliar. Sementara total biaya operasi perusahaan naik 2,2 persen dari USD 3,22 miliar menjadi USD 3,29 miliar.

Jika dirinci biaya BBM turun dari USD 1,09 miliar menjadi USD 868 miliar, lalu biaya rental pesawat turun dari USD 811 miliar menjadi USD 799 miliar. Sementara biaya lainnya turun dari posisi USD 1,55 miliar menjadi USD 1,46 miliar. (JPC)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed