oleh

Dosen UNM Ajar Masyarakat Maros Untuk Bercocok Tanam Melalui Hidroponik

MAKASSAR, INIKATA.com Saat ini informasi mengenai cara bercocok tanam secara hidroponik sudah bukan merupakan hal yang baru para petani dan bagi masyarakat di Sulawesi Selatan.

Namun, hal itu tak bagi masyarakat Desa Tunikamaseang di Kabupaten Maros, hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi mereka, mengingat wilayah bermukim mereka adalah wilayah tambak, sehingga memiliki keterbatasan, utamanya dalam hal ketersediaan air bersih.

Teknik bercocok tanam secara hidroponik merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan bagi masyarakat setempat. Mengingat penggunaan air bersih dalam bercocok tanam dengan metode ini cukup efisien (hemat) juga kita dapat memanfatkan barang bekas untuk bercocok tanam.

Sehingga dengan teknik ini masyarakat diharapkan dapat selalu memperoleh ketersediaan sayuran hijau segar, yang mana selalu kesulitan dalam penyediaannya.

Melihat hal tersebut, Dosen Universitas Negeri Makassar, melakukan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang berlokasi pada Desa Tunikamaseang di Kabupaten Maros.

Ketua pelaksana Program Kemitraan Masyarakat, Dr. St. Fatmah Hiola, S.P., M.Si mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk bagaimana meningkatkan pengetahuan masyarakat, bagaimana bercocok tanam dengan cara hemat air serta bisa memanfaatkan barang bekas sebagai media dalam bercocok tanam.

“Ini sebagai bentuk bagaimana memberi pengetahuan kepada masyarkat tentang bagaimana sih cara mengelola tanaman dengan kondisi air yang kurang, namun disisi itu bisa bernilai untung bagi para masyarakat,” ucapnya. Sabtu (3/8/2019).

Ia menambahkan, kegiatan ini diperuntukkan bagi ibu rumah tangga guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan barang di sekitarnya dalam bercocok tanam secara hidroponik, sehingga lingkungan di sekitarnya lebih terjaga, disamping itu pemenuhan kebutuhan hidup sehat keluarga melalui konsumsi sayuran hijau segar dapat dipenuhi.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan Program Kemitraan Masyarakat ini dapat menambah pengetahuan masyarakat bagaimana cara memanfaatkan barang bekas di sekitarnya untuk bercocok tanam secara hidroponik, sehingga kebutuhan akan sayuran hijau di desa tersebut dapat terpenuhi,” tutupnya. (Anca)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed