oleh

Kondisi Saluran-saluran Air Irigasi Sawah Jatia Rusak

MAKASSAR, INIKATA.com – Kondisi saluran-saluran air irigasi persawahan daerah Kabupaten Gowa sangat memprihatinkan. Air Irigasi yang seharusnya untuk mengairi persawahan menjadi tidak maksimal akibat lubang-lubang kecil disaluran air sekunder.

Saluran air irigasi sekunder Jatia misalnya, dari pantauan INIKATA.com. Terdapat lubang-lubang tikus (lubang kecil) yang menganggu saluran perairan. Saluran air sekunder Jatia bisa mencakup 1110 Ha persawahan, namun karena lubang kecil tersebut, banyak petani-petani khususnya didaerah dekat hilir tidak mendapatkan pasokan air.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A), Ilyas Sijaya mengatakan, kondisi saluran sekunder Jatia sudah banyak memiliki lubang-lubang yang menghambat pengairan air persawahan khususnya didaerah hilir.

Khusus daerah saluran air irigasi Jatia mampu mencakup 1110 Ha persawahan. Namun karena lubang kecil itu menjadikan penyaluran air kurang maksimal.

“Kini kondisinya sudah makin sangat parah, karena lubang-lubang kecil itu banyak petani yang tidak kebagian air untuk sawah mereka,” kata Ilyas kepada Inikata.com, Minggu 6 Oktober 2019.

Menurutnya, saluran air irigasi sekunder Jatia sudah layak rehabilitasi. ,”Lubang-lubang kecil itu biasa karena faktor usia saluran sudah tua. Namun kami tak mengungkiri bahwa banyak juga tangan-tangan liar membuat lubang kecil untuk kepentingan mereka sendiri,” sesalnya.

Kedepannya, kata Ilyas, diperlukan kesadaran petani-petani pemakai air irigasi untuk mematuhi pengatuan pembagian air irigasi.

“Banyak Petani kurang paham terkait pengaturan penyaluran air. Jadi kita tidak pungkiri, selain karena faktor saluran air sudah tua juga banyak petani-petani membuat lubang untuk pengambilan air liar,”ungkapnya

Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Muhammad Jamil mengatakan pembuatan lubang-lubang kecil saluran air irigasi sekunder dari tangan yang tidak bertanggung jawab menjadi prioritas IP3A.

“Permasalahan itu menjadi tantangan kami kedepannya. Satu hal yang perlu diketahui, banyak petani belum sadar, belum mau diatur melalui jaringan pembagian airnya. Mestinya petani¬† berada di jaringan 1 Tapi karena dia ingin cepat makanya dia ambil air dari jaringan 2 dengan membuat lubang-lubang itu,” tandasnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini